Sanitasi sekolah yang memadai bukan sekadar masalah estetika, melainkan pondasi utama bagi kesehatan dan kenyamanan siswa dalam menjalani aktivitas belajar mengajar sehari-hari. Menyadari hal tersebut, Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) hadir di SMPN 1 Pailangga untuk melaksanakan kegiatan penyuluhan sanitasi secara komprehensif. Fokus utama dari kegiatan ini adalah meningkatkan standar kebersihan toilet sekolah, sebuah fasilitas yang sering kali menjadi titik lemah dalam pengelolaan kesehatan lingkungan institusi pendidikan.
Melalui program ini, HAKLI memberikan edukasi kepada warga sekolah, termasuk siswa dan staf kebersihan, mengenai pentingnya menjaga toilet tetap higienis. Toilet yang tidak terawat bukan hanya memicu bau tidak sedap, tetapi juga menjadi tempat bersarangnya bakteri, virus, dan vektor penyakit seperti lalat atau kecoa. Di SMPN 1 Pailangga, penyuluhan ini menekankan bahwa sanitasi yang buruk berkorelasi langsung dengan tingkat absensi siswa akibat berbagai penyakit seperti diare, infeksi saluran kemih, dan masalah pencernaan lainnya.
Dalam sesi penyuluhan, para ahli dari HAKLI memberikan panduan teknis mengenai cara membersihkan toilet yang benar menggunakan disinfektan yang tepat, bukan sekadar menyiram air. Mereka menjelaskan pentingnya memastikan ketersediaan air bersih yang mengalir serta sabun cuci tangan di setiap unit toilet. Fasilitas yang bersih dan berfungsi baik akan mendorong siswa untuk tidak menunda keinginan buang air, yang secara medis sangat penting untuk mencegah gangguan kesehatan. Edukasi ini mengubah paradigma siswa bahwa menjaga toilet adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas petugas kebersihan.
SMPN 1 Pailangga menyambut baik inisiatif ini sebagai langkah strategis dalam menciptakan lingkungan sekolah yang sehat. Pihak sekolah berkomitmen untuk memperbaiki sarana sanitasi yang rusak dan mengalokasikan anggaran khusus untuk pemeliharaan rutin. HAKLI juga memberikan standar operasional prosedur (SOP) sederhana yang ditempel di setiap dinding toilet agar siswa mudah mengikuti aturan kebersihan. Dengan adanya SOP ini, budaya antri dan tata cara menggunakan toilet secara higienis dapat terbentuk secara alami di kalangan siswa.
Selain aspek teknis, penyuluhan ini menyentuh sisi etika dan perilaku siswa. Siswa diingatkan untuk tidak membuang sampah, seperti tisu atau pembalut, ke dalam lubang kloset karena dapat menyebabkan penyumbatan dan merusak sistem septik tank. Perilaku bijak dalam menggunakan air juga diajarkan agar penggunaan toilet tetap efisien. Dengan menanamkan kesadaran ini, sekolah tidak hanya mencetak siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga siswa yang memiliki kesadaran tinggi akan etika penggunaan fasilitas publik yang baik.
