Program jurnal kebaikan selama bulan Ramadan di SMPN 1 merupakan inisiatif yang bertujuan untuk membiasakan siswa melakukan refleksi harian atas amal saleh yang mereka kerjakan. Namun, agar program ini tidak sekadar menjadi tumpukan kertas yang terabaikan, proses penjurian yang objektif dan apresiatif menjadi sangat penting. Penjurian di sini bukan untuk menghakimi mana yang lebih baik atau buruk, melainkan untuk memberikan validasi terhadap konsistensi siswa dalam berlatih menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya.
Dalam menentukan kriteria penilaian jurnal, pihak sekolah harus mengedepankan aspek kejujuran dan kedalaman refleksi. Sering kali, siswa cenderung menuliskan kegiatan kebaikan yang tampak “besar” di mata orang lain, padahal kebaikan yang sesungguhnya seringkali tersembunyi dalam hal-hal kecil, seperti membantu orang tua, bersikap sabar saat marah, atau menjaga lisan dari perkataan buruk. Juri harus jeli dalam melihat bagaimana siswa mampu membedah pengalaman sehari-hari mereka dan menarik pelajaran moral darinya. Inilah esensi dari pendidikan karakter yang sebenarnya.
Proses penjurian yang dilakukan di SMPN 1 juga harus melibatkan unsur guru bimbingan konseling atau guru pendidikan agama agar penilaian tidak hanya bersifat administratif. Guru dapat memberikan catatan singkat atau umpan balik pada setiap jurnal yang dibaca. Ketika siswa melihat bahwa jurnal mereka dibaca dengan penuh perhatian oleh guru, motivasi mereka untuk menulis dengan lebih sungguh-sungguh akan meningkat tajam. Mereka akan merasa bahwa apa yang mereka lakukan di rumah atau di luar sekolah benar-benar dihargai oleh lingkungan pendidikannya.
Selain itu, penting bagi sekolah untuk menyelenggarakan sesi berbagi setelah periode Ramadan usai. Siswa yang terpilih memiliki jurnal paling inspiratif dapat diminta untuk menceritakan pengalaman mereka di hadapan teman-temannya. Hal ini menciptakan efek menular (ripple effect) yang sangat positif. Teman-teman yang mendengar cerita tersebut mungkin akan terinspirasi untuk melakukan kebaikan yang sama di masa depan. Jurnal tidak lagi menjadi benda mati, tetapi berubah menjadi panggung inspirasi bagi seluruh warga sekolah.
Tantangan utama dalam penjurian adalah menjaga objektivitas. Sekolah perlu menyusun rubrik penilaian yang jelas, misalnya mencakup aspek konsistensi pengisian, variasi jenis kebaikan, serta kualitas refleksi diri. Penjurian yang transparan akan membuat siswa merasa diperlakukan adil. Jika ada siswa yang mungkin kurang dalam hal teknis penulisan namun sangat tulus dalam tindakannya, juri harus mampu memberikan apresiasi yang setara. Inilah yang membuat kegiatan ini begitu berkesan dan mampu menyentuh sisi kemanusiaan siswa.
