SMPN 1 Pailangga Rombak Total Sistem Guru Piket, Siswa Merasa Lebih Diperhatikan

Sistem guru piket seringkali hanya dianggap sebagai tugas administratif, namun SMP Negeri 1 Pailangga mengubah pandangan ini. Mereka melakukan rombak total sistem guru piket menjadi model pendampingan yang fokus pada kesejahteraan siswa. Hasilnya, siswa merasa jauh lebih diperhatikan dan terhubung dengan guru.

Perubahan filosofi ini didasari kesadaran bahwa guru piket harus berperan lebih dari sekadar pengawas kedisiplinan. Mereka adalah frontliner yang harus mampu mendeteksi masalah akademik atau emosional siswa sejak dini.

Model baru ini disebut “Guru Sahabat”. Setiap guru piket diberikan pelatihan khusus dalam mendeteksi tanda-tanda stres atau masalah sosial di kalangan remaja. Pelatihan ini melengkapi mereka dengan keterampilan konseling dasar.

Inti dari rombak total sistem guru piket adalah peningkatan waktu interaksi yang berkualitas. Guru piket tidak lagi hanya duduk di pos, tetapi secara aktif berkeliling. Mereka berinteraksi dengan siswa secara informal di kantin, lapangan, atau taman.

Sistem check-in harian yang non-formal juga diterapkan. Guru piket akan menyapa setiap siswa di pintu gerbang. Sapaan ini dilakukan untuk melihat kondisi emosional mereka sebelum memulai pelajaran. Ini adalah langkah preventif yang sederhana namun efektif.

Dampak positif dari rombak total sistem guru piket ini adalah penurunan kasus pelanggaran ringan dan peningkatan pelaporan isu bullying. Siswa merasa lebih nyaman untuk berbagi masalah mereka dengan guru yang mereka anggap sebagai sahabat.

Sistem ini juga menciptakan tanggung jawab kolektif. Semua guru, terlepas dari mata pelajaran yang mereka ajarkan, merasa memiliki peran dalam menjaga iklim sekolah yang positif dan suportif bagi semua siswa.

SMPN 1 Pailangga membuktikan bahwa perubahan signifikan dapat dilakukan tanpa biaya besar. Investasi utamanya adalah waktu dan komitmen guru untuk membangun hubungan yang tulus dengan siswa mereka.

Penerapan sistem “Guru Sahabat” ini menempatkan kesejahteraan siswa sebagai prioritas utama. Sekolah menyadari bahwa siswa yang merasa diperhatikan dan didukung akan lebih termotivasi dalam belajar.

Keberhasilan rombak total sistem guru piket ini menarik perhatian sekolah lain di Sulawesi Tenggara. Mereka melihat bagaimana pendekatan yang lebih manusiawi dapat mengubah dinamika sekolah secara keseluruhan.

SMPN 1 Pailangga telah menetapkan standar baru untuk peran guru piket. Peran mereka adalah pendukung emosional. Mereka bukan lagi hanya polisi sekolah. Ini adalah langkah maju dalam pendidikan berbasis kasih sayang.

Sekolah ini telah menunjukkan bahwa perhatian sekecil apapun dari guru dapat memberikan dampak besar pada mentalitas dan kesuksesan siswa. Perubahan sistem adalah perubahan hati dan sikap.

Theme: Overlay by Kaira Extra Text
Cape Town, South Africa